was successfully added to your cart.

Catat tanggalnya — 30 Mei 2015 — adalah hari terakhir FoodFezt buka.

Yes, you read it right. Setelah tanggal tersebut, kamu hanya akan menjumpai bangunan kosong, yang tak berapa lama lagi mungkin juga rata dengan tanah. Tak ada lagi ada secara fisik sampai tanggal yang belum ditentukan lagi.

FoodFezt-Location-Kaliurang

Lokasi FoodFezt di Jalan Kaliurang Km 5.5, Yogyakarta – Photo Courtesy akun @FoodFezt

 

The Beginning.

Kisah ini dimulai sekitar 8 tahun yang lalu. Cerita tentang sebuah restoran yang berdiri di tahun 2007, dimana Jogja sudah mulai ramai, tapi belum penuh.

Saat itu, bilangan hotel berbintang lebih dari tiga mungkin cukup dihitung dengan jari tangan 2 manusia. Lalu lintas masih lancar, dan kemacetan yang terjadi hanyalah ketika ada perbaikan gorong-gorong atau pengaspalan jalan.

Beberapa minggu sebelum buka, perdebatan atas apa tagline yang pantas disematkan berlangsung sengit.

“Semacam tempat makan.”
“Opo kuwi? Raono artine. Lha berarti cuman semacam, bukan tempat makan beneran?”
“Tagline ga penting artinya. Lebih penting memorable daripada meaningful..”
“Hmmm.. yo wis karepmu.”

FoodFezt-FlashBack-To-Yogya

Because, here’s our motto: I’m committed, I’m responsible, I’m cheerful, I’m positive, and I’m skillful. #FFflashback, tuit akun @FoodFezt.

17 Oktober 2007.

Jogja — sebuah studi mengatakan bahwa kota ini memiliki tingkat kepadatan tempat makan/nongkrong dibanding jumlah penduduknya yang paling tinggi diantara kota lain di Indonesia. Demografinya juga sangat unik, disusul dengan karakter bahwa setiap tahun muncul gelombang pendatang baru dan hilangnya satu gelombang mahasiswa yang telah menyelesaikan masa studinya. Artinya, ketika sebuah bisnis menyasar mahasiswa, maka bersiaplah untuk kehilangan basis pelanggan tersebut dalam beberapa tahun kemudian karena alasan geografis-ekonomis: pindah ke kota lain setelah lulus untuk bekerja.

Ketika pelanggan pertama datang pagi itu, ketika rajang tipis bawang putih bertemu wajan panas untuk pertama kalinya hari itu, demi membentuk menu pertama yang dipesan, pertama kalinya dalam kisah hidup sebuah lini bisnis makanan ini.

Satu, dua, dan dalam waktu singkat banyak pengunjung berdatangan disusul dengan bau harum makanan yang sedang dimasak menguar disitu. Bercampur dengan riuhnya percakapan dan sayup musik beradu. Di Jalan Kaliurang km 5.5 Pandega Karya, dimana restoran itu berada.

Pertama kali berdiri, namanya adalah FoodFest dengan “s”, alhasil tidak bisa didaftarkan merk-nya karena merupakan sebuah nama generik, singkatan dari Food Festival.

Kemudian berganti FoodFezt, nama restoran itu. Dengan konsep open-air foodcourt dimana ada 11 dapur dan 1 bar yang bernaung didalamnya.

Banyak teman yang terlibat dalam proses berdirinya. Wawan yang membuat platform awal laporan finansial, Tebleh yang membantu berurusan dengan segala perparkiran dan gentho (-Orang yang memegang suatu kawasan, Red) disekelilingnya, Galing yang memberi banyak saran atas model bisnisnya, dan banyak lagi -yang tidak dapat disebutkan satu persatu.

Juga tim perintis yang terlibat didalam proses pencarian tenants yang mengisi di awal dibuka; Bimo, Totok, Wahid, Putra, dan Sari tentunya (2 nama terakhir masih disini sih), dan beberapa nama lagi yang aku lupa namanya. Momen-momen itu tidak akan terlupakan.

Ahhh. Ada juga Juki yang telah memilihkan nama FoodFest (sorry I changed one font) ketika dulu dia masih belum meng-hiphop dan masih seorang graphic designer, Dialah yang mendesainkan logo FoodFest dan hanya dibayar dengan semangkuk Sop Konro. Again, a very deep thank to you.

FoodFezt-Last-Promotion

Kemudian banyak nama lagi di FoodFezt sebagai bagian dari tim selama hampir sewindu ini — diantara tahun awal hingga kini. Yang telah ikut menghidupkan kisah ini, yang mungkin tak akan habis dituliskan di sini. Terima kasih telah sempat singgah, menetap, dan mewarnai.

Wew. (Hampir) 8 tahun yang berlangsung dengan cepat sekali. It’s just like blink in the eyes. Dan sekarang saya harus mengumumkan bahwa: FoodFezt segera tutup.

 





FoodFezt; In the end, it’s just business.

Oh betapa inginnya saya mengucapkan subjudul diatas dengan mudah. Tapi ternyata sulit juga berkata demikian, atas sebuah cerita yang telah terbangun selama hampir 8 tahun lamanya. Bisnis yang mengantarkan menuju berdirinya lini-lini bisnis yang lain yang walau sebagian gagal, sebagian berhasil dan bertahan hingga sekarang.

Dalam satu kalimat pendek dalam bahasa inggris, alasannya adalah:

The financial bottom line is not feasible anymore.
Yes, you read it correctly. And we must close it down.

FoodFezt, sebenarnya telah mengalami masa perpanjangan selama lebih dari 1 tahun. Masa kontrak dengan pemilik tanah berakhir pada akhir 2013 kemarin, dan pada saat itulah saya dan pemilik tanah berkomitmen untuk memperpanjang kerjasama, dengan fakta bahwa selama ini bisnis selalu berprofit untuk kedua belah pihak.

Perjanjian saya dengan pemilik tanah bukanlah sewa lahan seperti pada umumnya. Ketika berdirinya FoodFezt 8 tahun lalu, saya tidak punya cukup modal untuk menyediakan dana besar untuk membayar sewa dimuka sehingga jalan tengah yang saling menguntungkan adalah berbagi keuntungan setiap bulannya.

Dan selama itu pula lah, walau pastinya tidak terlalu mulus seperti jalan tol yang baru diaspal, kami selalu berbagi keuntungan dengan adil, seperti halnya tertulis di kontrak perjanjian. Pun hingga saat ini, tidak pernah satu bulan pun ada tanda kurung buka/tutup pada angka profit. Artinya, bisnis selalu menguntungkan, tidak pernah merugi.

 

Wait but why?

Kenapa secara fisik harus ditutup?

Ada beberapa faktor yang diperhitungkan, tapi utamanya ada 3 hal besar yang berbuah keputusan ini:

Yang pertama; adalah bahwa ekspektasi hasil bagi keuntungan dari pihak pemilik tanah tidak lagi bertemu dengan kenyataan. Dengan pertumbuhan nilai tanah/properti Jogja seperti ini, secara realistis harapan atas nilai profit perbulan tentunya ikut naik dari tahun ke tahun karena selalu dibandingkan dengan angka jika properti disewakan saja. Simply put, bisnis makanan pada umumnya — dan FoodFezt pada khususnya tidak mempunyai nilai pertumbuhan secepat properti, terutama di Jogja.

 

Yang kedua; tentunya ini bisa diperdebatkan — bahwa setelah (hampir) 8 tahun, maka sebuah brand akan berangsur “pudar”, terkorosi jaman dan termakan usia, apalagi disela banyaknya jenis restoran dan tempat makan di Jogja yang silih berganti muncul setiap minggunya.

 

Yang ketiga — dan yang paling utama; bahwa lini bisnis perusahaan kami yang terbaru, MakanDiantar.com — online food delivery service saat ini telah menyumbang proporsi signifikan dari omzet FoodFezt, dan trend pertumbuhannya positif kini di tahun 2015 sebesar 15%+ per bulannya, diproyeksikan dalam tahun ini akan lebih besar transaksi delivery makanan daripada pelanggan yang datang untuk bersantap di gerai.

 

Ketika ada transaksi delivery, share profit atas lokasi tanah FoodFezt menjadi tidak adil lagi — karena sebenarnya dapur untuk transaksi delivery bisa diletakkan dimana saja, selama dalam area yang bisa menjangkau pelanggan. Maka langkah yang paling tepat adalah memindahkan dapur MakanDiantar — yang didalamnya ada menu-menu FoodFezt, ke lokasi yang lain.

MakanDiantar.com jugalah yang sekarang menjadi prioritas growth perusahaan, karena secara business model, ini adalah yang paling scalable diantara lini bisnis yang lain. Resource dan waktu yang ada akan dialokasikan untuk membangun dapur-dapur online delivery di kota lain. Tunggu saja kabarnya di tahun ini — atau jika anda tertarik bekerjasama, you’re very much welcome. Let’s talk business.

Ada rule of thumb untuk nilai sewa bangunan/tanah yang menjadi patokan bisnis pada umumnya; yaitu per tahunnya adalah 5% dari nilai properti yang disewakan.
Contoh: apabila nilai properti 1M, maka nilai wajar sewa per tahun adalah 50jt. Jika nilai sewa dibawah itu, maka ada 2 kemungkinan: (1) sewanya murah, atau (2) pertumbuhan nilai properti sangat pesat.

Pada kasus FoodFezt, nilai properti di sekitar Jalan Kaliurang bawah Yogyakarta pada tahun 2007 di pinggir jalan masih sekitar 4–5jt/m2, tetapi tahun ini (2015) sudah mencapai angka 20–25jt/m2 (mungkin lebih). Artinya, nilai harapan atas profit perbulannya yang didapatkan pun sudah menjadi 5x lipat dibanding tahun awal FoodFezt dibuka.

Dan akhirnya, FoodFezt — sebagai sebuah restoran fisik sudah hampir mencapai penghujung cerita. Sebuah bisnis yang pada masanya menjadi trendsetter dan dibicarakan banyak orang di Jogja. Bisnis yang mengantarkan saya sampai disini, serta sebagai titik pijakan untuk lini-lini bisnis yang lain.

Kami tidak akan melayani pelanggan secara dine-in lagi, tak akan ada lagi meja kursi untuk anda singgahi dan waiter yang datang mendatangi anda dengan iPod untuk mencatat pesanan.

Tapi jangan kuatir, sebagai sebuah brand restoran yang menyediakan makanan, sebagian besar produknya(dan tambahan banyak menu lagi) masih bisa anda akses secara online, — diantarkan langsung ke depan pintu anda, via MakanDiantar.com ;)

 

Quick Fact:
Pada 2008, FoodFezt mungkin adalah restoran pertama di Indonesia yang menggunakan sistem digital order. Waiter/s kami menggunakan PDA (Personal Digital Assistant) untuk mencatat order dan sistem akan meneruskannya ke 11 dapur yang ada, sesuai menu.

FoodFezt-Last-Promotion-Campaign

Epilog

Layaknya sebuah paragraf, huruf besar yang memulainya, diikuti dengan berbaris kata lalu koma dan tanda baca, harus diakhiri dengan titik dan jeda baris kosong untuk memberi ruang paragraf berikutnya.

Terimakasih atas semuanya; pelanggan yang pernah datang, teman yang pernah singgah, tenants yang selalu setia memasak tanpa lelah, dan tim yang selalu tersenyum hingga penghujung cerita ini.

 

Penulis Asli adalah Andy Fajar Handika seorang Founder sekaligus CEO dari FMG Corp. | @FoodFezt | @KopiOeyJogja | @MichigoID | @MakanDiantar | Future philanthropist | Tri-athlete wannabe | A professional dreamer.

*Pernah bikin beberapa (belas) bisnis dan brands. Beberapa gagal, beberapa survive hingga sekarang.

Yang masih bisa dijumpai kini; FoodFezt (closing soon physically), Kopi Oey Jogja, Michigo — Korean Food, and that online food delivery service.

 

Simak Video Inspiratif Courtesy Telkom Digital Valey berikut

Mungkin banyak yang belum mengenal sosok Andy Fajar Handika. Tapi bagi warga Jogja, 3 bisnis kulinernya sangat terkenal di kota pelajar ini. Dialah yang membidani lahirnya FoodFezt, Kopi Oey Jogja, dan restoran ala Korea, MichiGo. Satu hal yang menarik untuk diketahui adalah bagaimana kak Andy mengoptimasi bisnisnya dengan bantuan teknologi informasi.

 

Disunting kembali oleh Editorial Benang Merah Komunikasi Indonesia dari akun status Medium Andy Fajar Handika mengenai FoodFezt — Sebuah cerita yang harus berakhir segera. Untuk atas izin publikasinya kami Redaksi Benang Merah Komunikasi mengucapkan terima kasih semoga kisah tersebut dapat menjadi inspirasi bagi pembacanya.

Editorial Benang Merah Komunikasi

Author Editorial Benang Merah Komunikasi

“Benang Merah Komunikasi Indonesia seeks to become a global leader in digital media solutions and digital marketing in the era of AEC ( ASEAN Economic Community ) in 2017 and it has been started since early 2015, especially in Indonesia. We hope that we can give our customers something to create breakthrough digital content, spread in the media and services, measure and optimize from time to time, and achieve greater business success. We help our customers create, manage, promote and monetize their content in each channel and display. We are passionate creative entrepreneurs and strategists working with forward-thinking brands, institutions, and agencies.”

More posts by Editorial Benang Merah Komunikasi

© 2004-2017 Copyright Benang Merah Komunikasi Indonesia. Registered Trademarks.

Made with in Indonesia