was successfully added to your cart.

Global Talent

Global talent menurut definisi Global Indonesia Network, adalah sumber daya manusia (SDM) Indonesia yang berada di luar negeri atau SDM Indonesia yang ada di dalam negeri namun bekerja di perusahaan asing, organisasi asing, atau melakukan joint venture dengan pihak asing.

Hana juga berpesan bahwa untuk menjadi seorang global talent yang sukses, yang paling penting adalah SDM tersebut mau keluar dari comfort zonenya. ”Dengan ia keluar dari negaranya ataupun bekerja di lingkup kerja SDM asing, berarti ia mau untuk menghadapi perubahan dan menantang dirinya sendiri. Hal tersebutlah yang membuat seorang individu dapat sukses bersaing di dunia internasional,“ pungkas Dr. Hana Panggabean, Director School of Graduate Program Atmajaya University dalam Roundtable Dissussion: Becoming a Global Citizen: A New Frontier for Global Indonesian di Universitas Atmajaya, kemarin (1/7).

(dikutip dari artikel strategi untuk jadi global talent, dalam PortalHR)

GLOBAL-TALENT-Issue-Review-With-Handry-Satriago

Image courtesy TED-x Bandung

Penyunting melakukan kutipan dan suntingan kultwit dari akun Bapak Handry Satriago yang publikasikan lewat akun twitternya di @HandryGE . Tanpa merubah inti dan keseluruhan dari cuit tersebut, simak pendapat beliau mengenai Global Talent dan Indonesia berikut ini;

  1. Let’s start with the question of why bother with global talent? Kan Indonesia punya banyak tenaga kerja? And that demographic bonus?

  2. Well. Faktanya Competitiveness Index of the Countries menujukkan bahwa jumlah penduduk tidak menjamin kemakmuran negara tersebut.

  3. Begitu pula dengan Demographic Bonus yg di agung – agungkan itu. Sekitar 55 juta orang dengan usia kerja di tahun 2025. Will we be better?

  4. Indonesia ranking #34 di WEF Competitiveness Index 2014 – 2015

  5. Ranking CI ini masih di bawah Singapura, Malaysia, dan Thailand. Padahal potensi pasar kita jauh lebih besar dari mereka (apabila) digabung jadi satu.

  6. Nah, salah satu yang bikin kita nggak kompetitif adalah factor Human Capital. Di Human Development Index dunia, kita cuma ranking #108.

  7. Sekarang, dalam dunia yang semakin global ini, Persaingan Negara = Persaingan Talent. Negara dengan talent yang berkualitas tinggi, win.

  8. Win dalam arti akan mendapat keuntungan lebih banyak di banding negara lainnya. Talent tidak soal kuantitas, tapi kualitas.

  9. Punya demographic bonus tapi low quality, dalam konteks global standard, nggak menjamin bikin negara lebih makmur.

  10. Karena gini. Misalnya MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN) di launch ya beberapa bulan lagi. Ini bukan berarti kita kebanjiran tenaga asing aja

  11. Dengan adanya MEA, kita pun bisa membanjiri pasar tenaga kerja di luar negeri (negara – negara ASEAN).  Problemnya, kerjaannya apa?

  12. Malah dengan jumlah penduduk seperti kita ini, harusnya negara – negara lain takut dengan banjirnya tenaga kerja kita ke tempat mereka.

  13. But again, kerjaanya apa? Low quality global talent, will only get low quality job. Low paid, low influence on decision making.

  14. Sekarang, coba kita liat data lagi. INSEAD tahun lalu bikin Global Talent Competitiveness Index.

  15. Saya sarankan download dan pelajari. Penting tuh. Apalagi buat para pencari kerja di masa mendatang.

  16. Dan kita ranking berapa di global talent competitiveness index tersebut? 86 dari 93 negara! How dangerous it is!

  17. Artinya, dalam kondisi kayak gitu, begitu MEA dibuka, bukan berarti kita nggak dapet kerjaan. Tapi mostly low quality job.

  18. Dan, Ini yang bikin ngeri. Ternyata menurut studinya Boston Consulting Group (BCG), kita akan kekurangan talent bentar lagi.

  19. Reshe’ nya, kekurangan talent ini ada di level atas dan menengah. The high quality job!

  20. So, ketika MEA buka, kerjaan yang high quality di negara kita ini yang bakal jadi rebutan para global talent.

  21. Tambahan lagi, talent Indonesia ga terlalu demen kerja di luar negeri. 1-3 tahun sih mau, tapi lebih dari itu, rindu kampung.

  22. Nah, coba kita belajar dari Negara yang tingkat daya saing global talentnya tinggi. What did they do? Ambil contoh Swiss.

  23. Ada dua hal penting dalam pendidikan di Swiss. (1) Vocational atau kejuruan dan (2) Apprenticeship atau training / magang.

  24. Kita tahu sistem pendidikan di Indonesia masih banyak yang harus dibenerin. Tapi 2 hal ini bisa cepet dilakukan: Kejuruan dan Magang.

  25. Kenapa saya bawel banget dengan “menjadi global talent” ini, adalah karena hal ini menentukan posisi kita di dunia global.

  26. Negara dengan sumber daya alam banyak, labor banyak, dan murah (karena low quality), sangat potensial jadi objek doang dari globalisasi.

  27. Beberapa hal yang bisa kita perbaiki sekarang, agar jadi global talent. Udah, jangan nunggu orang lain atau system jadi bener.

  28. We should find our own way to become a better and competitive person in this world.

  29. First, mindset. Perlu openness dalam learning. Learn “how to learn” faster, cheaper, better and focus.

  30. Open mindset dalam learning: buang sekat – sekat yang nggak perlu. Ready to learn from anybody, anywhere, anytime.

  31. Kedua, Accept diversity. Global talent siap bekerja dengan multi kultur, dan complex issue. Need multi tasking capability juga.

  32. Miliki mindset ga takut deal dengan hal atau kerjaan yang ga gampang. Leaders deal with tough issues!

  33. Trus ini nih. Kalau zaman dulu basic skill yang diperlukan untuk kompetitif cuma bisa bawa mobil dan bisa bahasa inggris, sekarang beda.

  34. Basic skill of tomorrow adalah digital skills (e-skills), data and analysis, teamwork and networking capabilities.

  35. Then, values. Need to have values of “willing to run extra miles”. Ga cuma untuk capai target atau meet deadline aja.

  36. Penting banget value “run extra miles ini“. Kalau cuma menuhin target aja, itu doers. Leaders run extra miles.

  37. Values kedua : confidence / percaya diri. Di dunia global ini yang penting adalah having idea and a click in the internet world.

  38. Banyak jagoan di Indonesia. Tapi begitu panggungnya diberikan, confidence levelnya ga ada. Ga jadi bisa perform.

  39. Untuk cerita membangun confidence, bisa liat di kultwit saya sebelumnya disini

  40. Begitu ada kesempatan, carilah mentor. Magang di tempat kerja. This will accelerate your learning process.

  41. Nggak ada kata terlambat. Dan ga ada opsi pesimis untuk menghadapi global competition ini. Yang penting make the improvement.

  42. Tantangan ada di depan mata. Tulisan ini untuk mengingatkan dan menyemangati bahwa we need to raise our bar.

  43. Indonesia needs more global talents to compete in global world. Agar kita tak cuma jadi object.

 

Kesimpulan

Apa yang akan dilakukan kamu dalam menghadapai Masyarakat Ekonomi ASEAN, khususnya di Indonesia. Seiring dengan Misi Benang Merah Komunikasi di tahun 2015 yaitu, “Membantu pebisnis Startup Indonesia, UKM dan Enterpreneur dalam rangka Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015. Dan menjadikan Benang Merah Komunikasi sebagai Global Leader dalam industri Offline dan Online di Indonesia. Dengan kemampuan dan core kami miliki sebagai penyedia jasa periklanan di Indonesia, Benang Merah Komunikasi diharapkan mampu untuk menjadi mitra para UMKM dan Enterpreneur baru untuk bangkit ke kancah Internasional. Memajukan putra – putri bangsa Indonesia di era globalisasi terbuka ini.“, kata Franciscus Zheng, CEO Benang Merah Komunikasi. Kami bukan perusahaan kapitalis, namun ini lah tanda bakti kami dalam mengusung Global Talent di Indonesia. Apa yang anda inginkan sebagai karyawan atau bos atas perusahaan anda? Segera tinggalkan zona nyaman anda sekarang.

 

About Handry Satriago

Handry has been with GE since 1997, when he joined as Business Development Manager for GE Indonesia, then moved to GE Lighting Sales organization before being promoted to lead the Industrial Lighting and Systems business in Indonesia. He took up the opportunity to do a Black Belt role with Power Systems, South Asia and then expanded to cover ACFC (At Customer for Customer) at Asia level. Prior to this position, he was the Power Generation Sales Director for Indonesia, Vietnam, and Philippines. Handry holds Doctorate degree in Strategic Management from University of Indonesia with dissertation in “Examining Followers’ influence to Leaders’ Performance: A Reverse Pygmalion Study”. He also holds a Master in International Business from Monash University of Australia and Indonesia Institute of Management Development of Indonesia, as well as a Bachelor in Industrial Engineering Technology from Bogor Agricultural Institute of Indonesia. Now, Handry Satriago is the CEO of General Electric Indonesia.

(source from Official GE Indonesia website)

 





Kesimpulan artikel diatas dikaji dan ditulis oleh Redaksi Editorial Benang Merah Komunikasi dan diolah dari berbagai sumber.

Editorial Benang Merah Komunikasi

Author Editorial Benang Merah Komunikasi

“Benang Merah Komunikasi Indonesia seeks to become a global leader in digital media solutions and digital marketing in the era of AEC ( ASEAN Economic Community ) in 2017 and it has been started since early 2015, especially in Indonesia. We hope that we can give our customers something to create breakthrough digital content, spread in the media and services, measure and optimize from time to time, and achieve greater business success. We help our customers create, manage, promote and monetize their content in each channel and display. We are passionate creative entrepreneurs and strategists working with forward-thinking brands, institutions, and agencies.”

More posts by Editorial Benang Merah Komunikasi

© 2004-2017 Copyright Benang Merah Komunikasi Indonesia. Registered Trademarks.

Made with in Indonesia