was successfully added to your cart.

Jadilah inspirasi untuk mata, telinga, dan hati - Franciscus Zheng

Hope

Apa yang sebenarnya menjadi harapan (hope) CEO Benang Merah Komunikasi dengan lewat situs Dunia Benang Merah ini?

Jujur saja, Saya ingin agar Benang Merah Komunikasi menjadi global leader di solusi online maupun offline di era AEC (ASEAN Economic Community) 2015, atau orang mengenalnya dengan Masyarakat Ekonomi ASEAN, khususnya di Indonesia. Saya mengharapkan agar konsumen dan klien dapat mendapatkan sesuatu yang menarik perhatian mereka. Kami ingin membantu konsumen dan klien kami untuk mengelola, mempromosikan, menguangkan konten yang mereka miliki di semua saluran dan tampilan situs mereka, untuk mencapai kesuksesan bisnis yang lebih besar. Tentunya lewat ATL maupun BTL kampanye mereka.

Tidak melulu promosi, re-branding, atau kegiatan dalam ruang lingkup periklanan. Dalam waktu dekat ini saya ingin bagaimana Benang Merah Komunikasi dapat menjadi “benang merah” dalam merintis konsumen UKM, perorangan, atau kelompok kecil. Saya ingin menjadi jembatan para enterpreneur itu semua dalam maju ke kancah yang lebih besar. Tentunya akan menaikan reputasi Benang Merah Komunikasi itu sendiri.

RE-Hope-About-Rebranding - Famous Quote about Hope; Faith Hope and Love

Famous Quote about Hope; Faith Hope and Love

Bandung kota kreatif bung, banyak produsen yang lahir dari kota ini. Kenapa kreatif, karena banyak persaingan untuk merebut hati konsumen. Tapi mana buktinya kalau pemerintah ikut ambil bagian untuk memblow-up mereka. Mereka merintis usaha mereka dengan segala jernih payah yang mereka miliki. Semua berangkat dari nol, dan yang berangkat dari nol cenderung terlibas dengan mereka yang instan menggunakan koneksi mereka, kasarnya kaya dari lahir. Sama seperti Benang Merah Komunikasi yang saya buat dahulu.

Saya bertemu dengan salah satu pengusaha supplier perlengkapan rumah tangga. Anda tahu? Beliau memulai bisnisnya dari nol, bukan dengan warisan ataupun kekayaan instan yang mereka miliki. Bahkan pinjaman dari bank atau lainnya. Pernah mendengar, membaca kisah – kisah sukses orang terkenal? Kita kebanyakan tahu awal dan  endingnya, tanpa tau prosesnya. Jadi apakah yang penting? Hasil akhir atau proses? Saya lanjutkan cerita saya. Beliau mencoba menjadi tukang kredit perabotan rumah tangga, keliling. Ya, keliling. Beliau kala itu hanya bermodalkan hasil gajinya untuk nyambi kredit peralatan rumah tangga, kebeberapa rekannya. Dan akhirnya mencoba dan memberanikan diri untuk menawarkan kredit tersebut ke tingkat yang lebih besar dengan harapan profit yang besar juga. Mencoba menawarkan ke kantin atau restaurant, yang notabene pasti jauh lebih membutuhkan peralatan dibandingkan rumah tangga biasa. Singkat kata, dari penjualan itu distributor barang tempat beliau mengambil barang mulai meliriknya dan mencoba menjadikan ia marketing, karena perputaran barang yang berhasil ia jual signifikan. Hal itu terus ia lakukan, hingga sampai ia mempunyai toko, dan bahkan penjualannya mengalahkan distributor. Saat ini dia direct to produsen.

Benang Merahnya, saya ingin bersama – sama dengan mereka, untuk naik, dengan keilmuan yang saya dan tim miliki. Kalau yang berkoar cuma satu tidak akan didengar dan diperhatikan, tapi kalau banyak dan kompak, presiden juga bisa digulingkan.

 

Tadi Bapak mengaris bawahi mengenai sejarah Benang Merah Komunikasi dahulu dan illustrasi mengenai kesuksesan. Ada kaitannya dengan Benang Merah Komunikasi itu sendiri?

Sangat ada. Ok, saya ceritakan.

Saya mengawali dan merintis Benang Merah Komunikasi itu penuh perjuangan. Kenapa? Saya yatim piatu dan anak tunggal. Hei, jangan melihat saya mengambil hak warisan saya dan membentuknya menjadi perusahaan ini. Saya tidak menggunakan secuilpun hak saya untuk membentuk perusahaan ini. Saya tutup dan lupakan itu semua. Tidak bangga saya untuk menceritakannya kalau ada bantuan atau backup dari koneksi keluarga maupun hak warisan.

Sesaat orang tua saya meninggal, Beliau mengatakan, “Jadilah inspirasi untuk mata, telinga, dan hati!“.  Beliau lahir dari keluarga yang cukup terpandang, dan dibesarkan sebagai tukang kayu. Merancang konsep interior maupun perkayuan saat itu. Saya anak yang malas dan mungkin lebih cenderung bermanja manjaan mengenai materi. Namun semua berubah ketika beliau tidak ada. Bukan karena pailit atau hal mengenai materi lainnya, namun mengubah cara pandang saya dan menjadikan saya lebih dewasa.

Saya dianggap tidak mampu untuk berkarya dan tidak mempunyai skill yang capable untuk mewujudkan mimpi itu. Ya, mimpi saya sederhana. Mempunyai perusahaan yang mampu meneduhi, merangkul, dan mewujudkan mimpi secara bersama – sama. Saya memulai dengan nama Thinkway Studio, yang semula hanya lelucon dari seorang teman. Simplenya waktu itu think berarti berpikir dan way berarti jalan, jadi jalan baru untuk berpikir. Mungkin nama Thinkway itu sendiri terasosiasi dengan Thinkway Toys Disney. Lucunya saya memberanikan diri menulis langsung via email ke Disney untuk penggunaan nama Thinkway, dengan alih alih adalah studio kecil yang saya ciptakan tanpa mengganggu Disney ataupun asosiasi yang berkaitan dengan itu. Saya suka animasi saat itu ya itu melatar belakangi nama Thinkway juga. Bangga, Thinkway Studio masuk dalam AIDB (Animation Industry Database) padahal saya cuma kecil kecilan saat itu. dan beberapa rekan mempelesetkan nama tersebut menjadi tingwe, linting dewe, melinting sindiri.

Benang Merah Komunikasi lahir dari padanan dan nama Thinkway itu. Waktu itu pekerjaan Thinkway secara komersil yang pertama adalah mengerjakan presentasi. Saya ngiklan di HU Pikiran Rakyat, iklan baris. Yang kontak dan dateng ke rumah waktu itu kepala sekolah dari SMK Karya Pembangunan di Bandung. Kalau tidak salah di Ujung Berung. Karena saya suka animasi, saya membuat grafik dan animasi dengan media program SWiSH Max,  sedang kompetitor (sekolah lain) hanya mengandalkan Microsoft PowerPoint. Tujuan dibuatnya presentasi itu, membuat presentasi publik sekolah didepan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan mengenai progam sekolah. Ada voice over, grafis, struktural, hingga beragam pernak pernik yang membuat presentasi itu menarik. Nah, lucunya (lagi) guru dan perwakilan sekolah saya dulu saya belajar hadir. Mereka bertanya, “Kenapa ga bantuin sekolah sendiri?“. Jelas kelibes, semua presentasi sekolah lain, secara audio visual dengan hasil buatan saya. Ditambah program kurikulum klien waktu itu mencoba mengacu pada standar internasional yang saat itu belum dilirik. Klien saya yang pertama (SMK Karya Pembangunan) meraih penghargaan terbaik dibandingkan sekolah lainnya yang berpresentasi serupa.

Klien saya bermunculan, klien saya yang kedua tentu saja sekolah saya sendiri yang ngedumel karena tidak saya bantu. Kali ini membuat print ads, juga packaging. Nah pengalaman itu saya mempelajari dimana segmentasi yang harus saya kelola dan kembangan, yaitu desain komunikasi visual. Bukan berarti semua ilmu komunikasi diabaikan, saya juga memperdalam ilmu marketing dengan mempelajari ilmu tersebut pada Bapak Hermawan Kartajaya Markplus.

Mengenai perubahan nama. Masa namanya Thinkway, susah diingat. Nulisnya susah. Banyak kesalahan spelling dari klien. Konotasinya nanti Disney. re-branding lah menjadi nama lokal, Benang Merah Komunikasi.

 

Tentang Rebranding

Rebranding is a marketing strategy in which a new name, term, symbol, design, or combination thereof is created for an established brand with the intention of developing a new, differentiated identity in the minds of consumers, investors, and competitors.

Merupakan upaya yang dilakukan oleh perusahaan atau lembaga untuk mengubah total atau memperbaharui sebuah brand yang telah ada agar menjadi lebih baik, dengan tidak mengabaikan tujuan awal perusahaan, yaitu berorientasi profit.

Sebagai sebuah perubahan merek, seringkali identik dengan perubahan logo ataupun lambang sebuah merek. Dengan kata lain, ketika melakukan rebranding maka yang berubah ialah nilai-nilai dalam merek itu sendiri.

Pada umumnya sebuah perusahaan melakukan rebranding karena beberapa alasan:

  1. Alasan finansial, perusahaan secara finansial melakukan reorganisasi dan sebuah identitas baru diperlukan untuk hal itu.

  2. Adanya manajemen/kepemimpinan baru, untuk mengiringi awal kepemimpinannya, mereka ingin memiliki tanda atau simbolnya sendiri di perusahaan yang dipimpinnya.

  3. Analisa prospektif pasar, setelah sekian tahun perusahaan perlu menegaskan kembali targetnya dan merencanakan mengubah positioningnya pada area yang baru, sehingga perlu citra yang baru pula untuk merefleksikan hal tersebut.

  4. Merger, beberapa perusahaan bergabung menjadi satu perusahaan yang baru dengan nama baru.

Ada beberapa alasan lain dilakukannya rebranding dalam sebuah perusahaan yaitu:

  1. Identitas dari perusahaan tersebut tidak dapat mewakili pelayanan dari perusahaan tersebut.

  2. Perusahaan tersebut sudah memiliki reputasi yang buruk di mata masyarakat.

  3. Perusahaan tersebut ingin memberikan sesuatu yang baru, berupa pembenahan dalam perusahaan.

Rebranding memakan waktu yang lama karena harus mempertimbangkan beberapa faktor, diantaranya faktor internal dan eksternal.

Faktor internal misalnya, perusahaan harus mempertimbangkan secara matang apakah perubahan ini membawa pengaruh yang besar bagi karyawannya dalam menjalankan tugasnya, karena karyawan harus memperkenalkan kembali logo baru tersebut ke masyarakat. Dalam melakukan rebranding perusahaan sedikit banyak harus mendapat kesempatan bersama dari para karyawannya.

Faktor eksternal ialah masyarakat dan stakeholder. Perusahaan harus mempertimbangkan juga apakah dengan perubahan brand, masyarakat memahami maksud dan tujuan yang hendak dicapai perusahaan.

Untuk menciptakan brand sebuah perusahaan tidaklah mudah. Ada dua komponen penting yang perlu dipertimbangkan, yakni tampilan dan bahasa.

Tampilan berhubungan dengan logo bisnis atau produk. Sebuah logo yang efektif seharusnya :

  • Unik dan menarik bagi target market.

  • Mampu menggambarkan sifat alami bisnis, produk, atau servis. Hal ini dapat ditafsirkan dengan dua cara yaitu literal dan abstrak.

  • Tidak mudah usang/ketinggalan jaman karena pergantian waktu (tahan lama).

  • Dapat diterapkan dalam semua konteks potensi komunikasi.

Aspek yang sama pentingnya dalam membuat brand ialah bahasanya atau cara mengungkapkannya. Hal ini sering dijelaskan sebagai tagline atau cara memposisikan pernyataan. Hal ini digunakan untuk meyakinkan konsistensi dan kelanjutan dari kedua hal yaitu penampilan dan bahasa menggambarkan perusahaan yang sekarang kepada pelanggan.

RE - Rebranding Book Cover; Thinking About Rebranding, it's only hope?

Thinking About Rebranding, it’s only hope?

Rebranding atau Repositioning ?

Dalam dunia pemasaran, kita sering menjumpai istilah rebranding dan repositioning. Apa sebenarnya masing-masing tersebut ?

 





Rebranding

Rebranding secara definisi berarti proses pemberian nama brand baru atau identitas baru pada produk atau jasa yang sudah ada tanpa perubahan berarti dari benefit yang ditawarkan oleh produk.

Ada dua tipe rebranding, yang pertama adalah apabila sama sekali ganti merek (misalnya dari Bell Atlantic menjadi Verizon; Cellular One menjadi Cingular Wireless). Yang kedua, rebranding sebagai hasil modifikasi dari merek yang sudah mapan (produk sereal Coco Krispies menjadi Coco Pops, produk pembersih Jif menjadi Cif, produk minuman Nestle Quik menjadi Nesquik).

 

Faktor Pendorong Rebranding

Faktor yang umumnya mendasari rebranding berkisar pada tekanan eksternal seperti regulasi, konsekuensi penjualan/pembelian merek, merger antar perusahaan, proses harmonisasi merek di tingkat global, dll.

Contoh popular adalah rebranding yang dialami oleh salah satu produk P&G. Pada tahun 1999, diputuskan untuk menyatukan nama brand produk pelembab yang dikenal dengan beberapa nama : Oil of Ulan, Oil of Ulay, Oil of Olaz menjadi Olay. Di tingkat global, nama Olay lah yang sekarang dipromosikan secara terintegrasi, kecuali di Jerman, Austria dan Swiss dimana masih dipasarkan dengan nama Oil of Olaz, dan di Belanda dengan nama Olaz.

 

Brand Repositioning

Brand Repositioning punya arti yang berbeda. Istilah ini lebih tepat apabila kegiatannya mengarah pada pemberian posisi atau makna baru pada brand yang sudah ada, dengan cara memperbaiki produk atau jasa yang ditawarkan, tanpa merubah nama brand.

Salah satu contoh brand repositioning adalah proses mengubah citra brand Samsung menjadi global brand. Beberapa tahun yang lalu, Samsung masih dikenal dan diasosiasikan sebagai produk buatan Korea dan konservatif. Saat ini, dengan tetap menggunakan nama Samsung, setelah melalui proses brand repositioning yang menyeluruh, citranya berubah menjadi brand global yang inovatif dan modern.

 

Faktor Pendorong Repositioning?

Banyak pemasar yang mempertimbangkan brand repositioning sebagai respon dari perubahan selera konsumen, tekanan kompetisi, tekanan dari channel/distribusi, dll.

Mengapa kedua istilah ini sering digunakan bersamaan atau secara bergantian adalah karena umumnya pada saat melakukan rebranding, perusahaan juga sekaligus menggunakan kesempatan ini untuk brand repositioning. Contohnya, rebranding dari Andersen Consulting menjadi Accenture di tahun 2000 yang tidak hanya rebranding murni, tetapi juga membawa perusahaan ke posisi yang baru, yang merefleksikan perkembangan perusahaan. Dengan nama baru Accenture, lingkup kecakapan perusahaan di bidang consulting menjadi bertambah luas.

 

Simak Video dibawah ini.

Franciscus Zheng

Author Franciscus Zheng

Founder, CEO, and act a lead Creative Director of Benang Merah Komunikasi itself. A Producer and also an artist. A friend and a creative entrepreneur, when in his very young age has spurred enthusiasm to grow become an originator of fresh ideas. Board of director of this company was a melancholic person.

More posts by Franciscus Zheng

© 2004-2017 Copyright Benang Merah Komunikasi Indonesia. Registered Trademarks.

Made with in Indonesia