was successfully added to your cart.

Review Zulu ID

Hari ini penulis mencoba untuk membedah dan memprediksi tentang situs baru bernama Zulu.ID . Saat saya tulis studi kasus penulis tentang Zulu ID mungkin masih sedikit yang mengenal dan mengkajinya.

Image Header dan Video Courtesy Bravo FM, The Captain edisi 7 Mei 2015 menghadirkan Wishnutama selaku CEO PT Net Mediatama Indonesia. Melalui bisnis dalam industri media, beliau mengemukakan alasannya merintis NET TV & melawan arus mainstream program televisi.

Visi Net adalah membuat (mewujudkan) pemikiran – pemikiran baru.. dan tidak melulu di televisi di berbagai platform dan sebagai era revolusi.” – Wishnutama

 

Alasan utama penulis selalu mengikuti perkembangan dari Netmediatama dan sang pendiri Bapak Wishnutama adalah pandangannya yang visioner yang mampu mengubah Indonesia, sesuai dengan tagline mereka saat ini “(Untuk) Indonesia Lebih Kece“. Bagi penulis menjadi kreatif itu mudah, namun menjadi visionaris sekaligus mendobrak itu sulit. Seperti yang dilakukan oleh NET, sejauh yang saya amati baik dari sisi visualiasi video hingga editing yang ditampilkan menjadi trensetter dan patut untuk di acungi jempol. Breakthrough di banyak sisi, sementara stasiun televisi lain di Indonesia menayangkan sajian program yang konvensional, namun penulis juga yakin mereka bisa bertahan karena mempunyai marketnya masing – masing.

Kembali ke situs baru yang di gawangi oleh Netmediatama, Zulu. Namun ada baliknya apabila pembaca menelaah kembali kejadian “Telkom Group memutuskan untuk memblokir Netflix per 27 Januari 2016 pada pukul 00.00 WIB.. Dengan demikian, pengguna Indihome, WiFi.id, dan Telkomsel secara otomatis tidak bisa mengakses layanan video streaming asal Amerika Serikat tersebut. Telkom berharap, dengan pemblokiran ini, Netflix memberikan kepastian layanan sesuai dengan imbauan pemerintah. Netflix juga diminta untuk mengantongi izin usaha di Indonesia serta memiliki contact point layanan untuk memudahkan konsumennya.” (dikutip dari Liputan 6, pada halamannya yang bertajuk Netflix diblokir di Indonesia).

 





Mengenal Netflix

Bila anda pengguna internet cepat, anda pasti telah melihat berbagai cara untuk menonton film dan program televisi secara legal di komputer anda. Netflix adalah salah satu situs yang memiliki layanan streaming video.

Netflix telah memperkenalkan sebuah layanan yang disebut “Watch Instantly”. Dengan fitur ini anda dapat mengakses berbagai macam judul (sekitar 17.000 dari 100.000) yang mereka tawarkan yang dapat anda tonton secara instant pada komputer desktop atau notebook komputer anda.

Tidak hanya dapat menonton streaming video pada komputer anda, tapi juga bila anda memiliki netflix ready device, anda bisa menontonnya langsung pada TV anda,tanpa menggunakan komputer (anda tetap membutuhkan internet).

Xbox 360 juga sebagai netflix ready device, begitu juga dengan Playstation 3. Dan juga Blu ray player,Tivo DVRs, beberapa HDTV dan bahkan perangkat yang dibuat khusus untuk ini juga dapat menggunakan netflix streaming device.

Netflix ibarat toko penyewaan DVD, tetapi menawarkan film digital di dunia maya. Netflix bisa juga disamakan dengan layanan video berbayar di YouTube.

*****

ZULU-ID-NET-Netflix-Review-Indonesia
Mirip langganan televisi berbayar (cable tv), Netflix bersih dari iklan, penonton tak perlu menunggu jadwal penayangan serial televisi, dan bisa menentukan sendiri konten yang ingin dinikmati.

Kemudahan itu dibayar dengan harga berlangganan relatif murah. Mulai dari Rp 109.000, pengguna bisa mengakses koleksi film dan serial televisi yang terhimpun dalam perpustakaan Netflix.

Syarat mutlaknya, pengguna harus memiliki jaringan internet yang mumpuni dan sebaiknya dengan kuota tak terbatas. Sebab, Netflix mengusung mekanisme streaming.

Lalu apa bedanya Netflix dengan layanan streaming serupa seperti Google Play Movies, iFlix, dan HOOQ? Pertama, Netflix adalah pelopor layanan sewa film online. Didirikan sejak 1997, Netflix mengakomodasi arsip film paling lengkap dengan wilayah pengoperasian terbanyak.

Seiring tingginya penetrasi internet, layanan-layanan serupa bermunculan dengan beberapa modifikasi dan signifikansi pasar.

Misalnya Google Play Movies yang khusus menyasar pengguna Android dan Chrome. Mekanismenya pay-per-view atau membayar tiap menonton satu film. Sementara Netflix merupakan layanan on-demand atau membayar langganan secara bulanan tanpa batasan film yang ditonton.

iFlix dan HOOQ lebih mirip dengan Netflix. Bedanya, HOOQ fokus pada pasar lokal Filipina. Sementara iFlix lebih luas dengan jangkauan di Filipina dan Malaysia.

Netflix sendiri sudah tersedia di 190 negara, termasuk Indonesia. Hingga akhir tahun ini, layanan yang didirikan Marc Randolph and Reed Hastings tersebut menargetkan 200 negara bisa menjajal Netflix.

ZULU-ID-NET-Netflix-for-Indonesia

Tampilan Netflix untuk pelanggan di Indonesia setelah di blokir Telkom Group

Untuk pasar Indonesia, ada tiga jenis layanan Netflix yang bisa dinikmati. Layanan tersebut adalah Basic, Standard, dan Premium. Perbedaan antara tiap paket terletak pada resolusi gambar film dan jumlah perangkat yang bisa digunakan lewat sebuah akun Netflix secara bersamaan.

Untuk mendaftar akun Netflix, pengguna harus memasukkan informasi kartu kredit.

(Diambil dari artikel yang berjudul “Akhirnya Masuk Indonesia, Netflix Itu Apa?” olehFatimah Kartini Bohang – Kompas Tekno)

 

Korelasi dan Kaitan

Mengapa penulis tidak memberikan tulisan mengenai beberapa innovasi yang dikeluarkan NET seperti NET CONNECT melainkan membahas mengenai Zulu ID ini? Menurut hemat penulis, NET CONNECT adalah aplikasi yang dibuat sebagai alat ukur, kajian, mengkolek data untuk melihat interaksi pengguna diluar medsos berdasarkan perhitungan tertentu atas suatu tayangan yang di tayangkan oleh NET. Simplenya untuk melakukan penganalisaan suatu tayangan.

ZULU-ID-NET-PromotionNamun Zulu berbeda, sepertinya NET ingin mencoba untuk membuat Netflix ala Indonesia, dari domain yang di daftarkan adalah berekstensi ID yang menandakan suatu regional. Telaah penulis yang mendapati beberapa keluhan bahwa visitor Zulu mengeluhkan secara teknis bahwa visitor situs Zulu dengan koneksi bandwith yang sempit tidak mumpuni untuk mengakses situs dengan baik. Apa bedanya? Penulis tidak perlu menjelaskan dengan detail dan bersifat teknis disini, sampai tulisan ini dibuat penulis melihat indikator bahwa pihak pengembang dan NET sedang menyiapkan “contents are ready to stream in any devices” dan highlight “The EASIEST way to Watch TV Shows, Movie & More.” lewat Zulu-nya.

“The EASIEST way to Watch TV Shows, Movie & More”

kaum middle up (decision maker) yang menentukan pola Indonesia kedepan kehilangan (kebutuhan) hiburan bagi mereka… dan tidak terakomodir dengan baik” – Wishnutama

Dan kalau apa yang penulis pikirkan tepat, sepertinya sudah terbayang gaung dan gema yang akan dihasilkan dari Zulu ini. Mungkin pengelola stasiun TV lain membuat stasiun TV berlangganan sendiri dalam skala kecil, hanya mengandalkan kabel optik atau jaringan lokal setempat. Ini indikasi dan juga hal yang perlu diperhitungkan dan bukan dianggap main – main. Apabila Zulu yang notabene diprakarsai oleh anak bangsa dan mampu menjaring “Good People” – audiencenya, skala dan impact-nya cukup besar apalagi di era kemajuan teknologi yang sangat pesat di Indonesia belakangan ini. “Kenapa bukan via Youtube?” Jawabannya simple, “Kenapa harus nebeng kalau bisa bikin sendiri.

Ramadhan
Next Post
Franciscus Zheng

Author Franciscus Zheng

Founder, CEO, and act a lead Creative Director of Benang Merah Komunikasi itself. A Producer and also an artist. A friend and a creative entrepreneur, when in his very young age has spurred enthusiasm to grow become an originator of fresh ideas. Board of director of this company was a melancholic person.

More posts by Franciscus Zheng

© 2004-2017 Copyright Benang Merah Komunikasi Indonesia. Registered Trademarks.

Made with in Indonesia