was successfully added to your cart.

Keduanya adalah tokoh dunia yang membawa perubahan. Meski Nelson tidak hadir saat KAA tahun 1955, tapi spiritnya, sosoknya tak diragukan lagi bagi masyarakat Asia Afrika,” ujar Wali Kota Bandung Ridwan Kamil.

Siapa tak kenal Soekarno?

Sepertinya hampir semua anak bangsa ini kenal sosok beliau. Presiden pertama Republik Indonesia, penggagas Pancasila, pejuang kemerdekaan, sang flamboyan, sosok kontroversial, pendiri Gerakan Non Blok, dan masih banyak lagi atribut yang disandangkan padanya.

Soekarno, memang istimewa. Sebagai pribadi, maupun sebagai simbol. Berbagai kisah menarik meliputi perjalanan hidupnya. Mulai dari cerita pergantian namanya dengan pertimbangan kesehatan, penjuangannya bersekolah di Surabaya dengan “nyantrik” di rumah HOS Cokroaminoto, sang macan podium sekaligus pemimpin Sarekat Islam (SI), kisah cintanya dengan ibu kost-nya di Bandung saat kuliah di kampus yang sekarang bernama ITB, dan pastinya kiprah beliau di kancah politik internasional, khususnya dalam menentang hegemoni Amerika Serikat dan atau Soviet.

Nama Soekarno tak bisa lepas dari nama-nama pemimpin besar dunia pada masanya. Sebut saja Fidel Castro sang revolusioner Kuba dan Che Guevara, sang legenda sosialis Argentina. Mereka relatif dekat dengan beliau & berbagai visi perjuangan yang sama. Soekarno juga nampak akrab dengan Mao Zedong, sang pemimpin revolusi China. Belum lagi kiprahnya dengan berbagai pemimpin negara-negara Asia-Afrika, yang dipuncaki dengan suksesnya kegiatan Konferensi Asia-Afrika di Bandung, tahun 1955. Sosok seperti Gamal Abdel Nasser, Jawaharlal Nehru, Mohammad Ali dan masih banyak lagi.

Yang tak kalah seru tentunya konflik, sekaligus permainan politik cantik Soekarno terhadap Amerika Serikat. Insiden penyanderaan pilot Amerika Serikat, Allen Pope, di tahun 1960-an yang memaksa Presiden John F. Kennedy mengikuti kemauan Soekarno untuk menukar pembebasannya dengan sejumlah kompensasi militer & ekonomi adalah strategi brilian, yang hanya mungkin dilakukan oleh seorang arsitek politik nan berpengalaman.

Ya, bagaimana tidak berpengalaman, jika Soekarno selama puluhan tahun telah aktif berpolitik praktis di 3 masa, penjajahan Belanda, Jepang & kemerdekaan. Baginya, mungkin, politik dengan segala trik & tipu dayanya adalah permainan yang memacu adrenalin.

Sayang beribu sayang, akhir hidup beliau kurang bagus. Meninggal dunia dalam kondisi tertekan, sendirian, sebagai seorang “tahanan politik” oleh rezim Orde Baru.

Banyak sekali hal yang bisa diambil contoh dari beliau, dari sisi manapun. Sebagai person, maupun figur bapak bangsa.

 

Lika-liku Nama Bung Karno: dari Koesno Menjadi Soekarno, Kemudian Sukarno

Manakah yang benar: Soekarno (dengan ejaan lama) atau Sukarno? Ini pertanyaan sederhana, dan jawabannya juga sederhana. Tapi orang sering salah menyebutnya.

Ketika Bung Karno lahir, pada 6 Juni 1901, kedua orangtuanya memberi nama Koesno Sosrodihardjo. Namun, ketika umur lima tahun, Bung Karno sakit-sakitan.

Orang Jawa mempercayai, jika anak kecil sakit-sakitan terus, namanya perlu diganti. Maka, oleh ayahandanya, nama Koesno diganti menjadi Soekarno.

Nah, nama Seokarno terinspirasi dari seorang panglima perang dalam kisah Bharata Yudha: Karna. Nama “Karna” menjadi “Karno” karena dalam bahasa Jawa huruf “a” berubah menjadi “o”. Sedangkan awalan “su” memiliki arti “baik”. Saat menjadi presiden, Bung Karno ingin agar dipanggil Sukarno saja–tanpa huruf o dan e. Sebab, menurutnya, nama tersebut menggunakan ejaan penjajah Belanda.

Meski demikian, Bung Karno tetap menggunakan nama Soekarno dalam tanda tangannya. Selain karena ada dalam Teks Proklamasi Kemerdekaan, tanda tangan tersebut sulit diubahnya. “Waktu di sekolah tanda tanganku dieja Soekarno—menurut ejaan Belanda. Setelah Indonesia merdeka aku memerintahkan supaya segala ejaan “OE” kembali ke “U”.

Ejaan dari perkataan Soekarno sekarang menjadi Sukarno. Akan tetapi, tidak mudah untuk mengubah tanda tangan setelah berumur 50 tahun. Jadi kalau aku sendiri menulis tanda tanganku, aku masih menulis S‐O‐E.

AACC2015-Tribute-To-Soekarno-The-Founder

Photo Courtesy Istimewa Sukarno.org

 

Solidarity Day: Tribute to Sukarno and Nelson Mandela” di Peringatan 60 KAA

AACC2015-Tribute-To-Soekarno-And-His-Speech

Photo Courtesy Istimewa”Tribute to Soekarno” Sukarno.org

Wali Kota Bandung, Ridwan Kamil, mengatakan, salah satu rangkaian acara peringatan 60 tahun Konferensi Asia Afrika (KAA) pada tanggal 24 April 2015 dipersembahkan untuk mengenang dua tokoh tenar di benua Asia dan Afrika.

Pria yang kerap disapa Emil ini menjelaskan, dua tokoh tersebut adalah Presiden RI pertama, Soekarno dan mantan Presiden Afrika Selatan, Nelson Mandela.

 





Tribute to : Soekarno Mandela

Ada event namanya Solidarity Day: Tribute to Sukarno and Nelson Mandela,” kata Emil di Balai Kota Bandung, belum lama ini. Acara peringatan untuk dua tokoh tersebut, lanjut dia, digelar di seluruh taman-taman tematik yang ada di Kota Bandung. Lulusan University of California, Berkeley, Amerika Serikat ini mengatakan, ada makna yang ingin ditonjolkan dalam acara sampingan ini.

Idenya, jika ada yang bertanya makna Bandung hari ini berbeda dengan tahun 1955,” ujarnya.

Kalau tahun 1955 pesannya melawan kolonalisme, tapi tahun ini temanya solidaritas Asia Afrika,” sambungnya.

AACC2015-Tribute-To-Soekarno-And-Nelson-Mandela-In-Bandung

Spanduk Sukarno dan Mandela di sekitar Balai Kota Bandung Photo Courtesy Detik.com

Spanduk bergambar dua tokoh dunia Sukarno dan Nelson Mandela beserta ucapan terkenal mereka mengelilingi pagar area Balai Kota Bandung menjelang peringatan 60 tahun Konferensi Asia Afrika (KAA) 2015.

Foto mantan presiden Indonesia dan presiden Afrika Selatan itu menggambarkan solidaritas Asia Afrika. Spanduk-spanduk tersebut bisa dilihat masyarakat yang melintas Jalan Merdeka dan Jalan Wastukancana.

Adanya spanduk ini berkaitan peringatan KAA ke-60 yang acara puncaknya berlangsung di Gedung Merdeka, Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, pada Jumat 24 April 2015. Spanduk vertikal berwajah Sukarno tertera tulisan ‘Lahirlah Asia Afrika Baru!’. Sukarno berpose senyum dengan ciri khas memakai kopiah.

Spanduk lainnya berbentuk serupa menampilkan Nelson Mandela. Bagian atas wajah mediang Nelson terpampang kalimat ‘Tidak Ada Yang Mustahil’.

Bagian bawah kedua spanduk tersebut ada huruf kapital ‘ASIAN AFRICAN SOLIDARITY’. Paling bawah menyajikan tulisan dari pihak yang membuat spanduk yakni, ‘Ilustrasi Wedha Pop ArtPortrait merupakan hak cipta dan karya dari Komunitas WPAP, digunakan dengan izin dan semangat kolaborasi bersama Komunitas WPAP’.

AACC2015-Major-Ridwan-Kamil-Tribute-To-Soekarno-And-Nelson-Mandela-In-Bandung

Kang Emil mengajak jalan-jalan Duta Besar Inggris untuk Indonesia Moazam Malik keliling Kota Bandung.

Rangkaian memperingati KAA ke-60 di Kota Bandung dimeriahkan kegiatan di berbagai tempat. Salah satunya Even Asia African Carnival (AAC) diprakasai Dinas Budaya dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Bandung yang berlangsung 21-27 April 2015.

Acaranya yaitu Angklung Harmony for The World, Solidarity Day (Tribute Sukarno & Mandela), Culture Break, Festival Of Nations, Photo Exhibition Of AAC, dan Asian African Parade.

Keduanya adalah tokoh dunia yang membawa perubahan. Meski Nelson tidak hadir saat KAA tahun 1955, tapi spiritnya, sosoknya tak diragukan lagi bagi masyarakat Asia Afrika,” ujar Wali Kota Bandung Ridwan Kamil.

Sumber Artikel Soekarno disunting dari Artikel pada situs Sukarno.org

 

Mandela : Kisah Perjuangan Melawan Apartheid

Kisah hidupnya adalah perjuangan panjang melawan sistem apartheid. Ia dipenjara puluhan tahun di Robben Island. Mandela, aktivis gerakan demonstrasi, meruntuhkan apartheid dan presiden kulit hitam pertama Afrika Selatan

10 Mei 1994, momentum besar bagi Afrika Selatan, mungkin yang terbesar dalam sejarahnya.

“Tidak ada seorang pun di negara ini yang kembali akan sebuah kelompok di bawah kelompok lainnya. Semoga Tuhan melindungi Afrika.“

Saat itu Nelson Mandela menjadi presiden berkulit hitam pertama di Afrika Selatan. Dengan undang-undang baru yang modern dan berakhirnya apartheid.

 

Lahirnya Apartheid

Tahun 1930 di Jerman Hendrik Verwoerd, seorang pria kulit putih mengenal paham nasional-sosialisme dan terpengaruh kuat ideologi rasisme yang dilancarkan NAZI. Ia kemudian melahirkan gagasan apartheid dalam kolonialisme.

Orang-orang berkulit putih seperti Verwoerd memandang dirinya sebagai anggota kaum elit di benua hitam tersebut. Verwoerd dan partai nasionalisnya mendefinisikan apartheid sebagai perkembangan terpisah, antara kelompok yang diistimewakan dan yang dianggap lebih rendah.

Sebagai menteri untuk urusan masalah penduduk asli, Verwoerd yang kemudian menjadi Perdana Menteri ke-7 Afrika Selatan menempatkan mayoritas warga berkulit hitam di negara itu ke kawasan khusus yang disebut Bantustan atau homelands. Kawasan-kawasan pemukiman ini disediakan hanya untuk kaum kulit hitam.

Pemisahan ras itu menentukan tata kehidupan secara umum. Di tempat-tempat umum ditetapkan peraturan ketat pemisahan antara kaum kulit putih dan tidak berkulit putih. Pernikahan campuran dilarang. Dengan Group Areas Act tahun 1950 dilakukan pemisahan kawasan tempat tinggal. Pendidikan dan lapangan kerja juga diatur berdasarkan ras. Di luar homelands kaum berkulit hitam harus selalu membawa paspor.

 

Aksi anti apartheid

Akibat penekanan dan rasialisme, muncul gerakan protes yang diorganisir Kongres Nasional Afrika ANC, yang kemudian menjadi gerakan massal. Demonstrasi, boykot, mogok kerja dan pembakaran massal paspor-paspor.

Salah satu aktivis utamanya adalah pengacara muda Nelson Mandela, yang kemudian menjadi ketua ANC. Tahun 1960 di selatan Johannesburg 20 ribu warga kulit hitam tanpa paspor menyerbu pos polisi, membiarkan dirinya ditangkap pihak berwenang. Demonstrasi itu berakhir dengan pembunuhan massal. ANC kemudian dilarang. Nelson Mandela melakukan perlawanan bersenjata dalam gerakan bawah tanah, dengan menyerang pusat-pusat industri. Tahun 1964 jajaran pimpinan gerakan bawah itu ditangkap. Nelson Mandela dan Walter Sisulu dkenai tahanan seumur hidup. Di pengadilan Mandela menekankan ia bersedia mati untuk visinya.

 

Diisolasi internasional

Dengan penerapan sistem apartheid Afrika Selatan semakin diisolasi masyarakat internasional. Sanksi perdagangan dan politik keuangan pada akhir 1980-an menyulitkan pemerintah nasionalis. Tekanan dari protes di jalanan, larangan mengikuti kejuaraan dunia serta pertandingan olimpiade menyebabkan pemerintah dari Frederik Willem De Klerk akhirnya melakukan perundingan dengan Kongres Nasional Afrika, ANC dengan syarat berakhirnya kekerasan tersebut.

Dalam pidato di parlemen tahun 1990 Presiden De Klerk mengumumkan reformasi serta berakhirnya pengasingan para aktivis. Nelson Mandela dibebaskan 11 Februari 1990 dalam usia 74 tahun, setelah ditahan 27 tahun. Ia berhasil melalui masa penahanan tersebut karena tidak ragu akan misinya.

Ia lalu menerima Nobel Perdamaian bersama dengan De Klerk. Tahun 1994 berlangsung pemilu yang bebas dan adil untuk pertama kalinya di Afrika Selatan. Mandela terpilih sebagai presiden kulit hitam pertama. Pemerintahnya mengakhiri sistem apartheid dan merintis rekonsiliasi nasional.

 

Nelson Mandela dan Indonesia

AACC2015-Tribute-To-Nelson-Mandela

The former we South African president passed away on Dec 5 at the age of 95; Photo Courtesy Apple for a tribute to Nelson Mandela

Hubungan Afrika Selatan dan Indonesia adalah sebuah hubungan persabatan murni, yang dibangun atas rasa saling percaya, saling membantu, dan saling mendukung. Ketika Nelson Mandela baru saja dilantik menjadi presiden Afrika Selatan, beliau berkeliling dunia, termasuk ke negara-negara Asia Tenggara, dan mendapatkan bantuan uang tunai $1o juta dari pemerintah Indonesia, sebagai awal untuk membangun pemerintahan. Konon, Indonesialah satu-satunya negara di Asia Tenggara yang membantu dengan tanpa pamrih.

Nelson Mandela juga mengungkapkan dalam bukunya, bahwa inspirator perjuangannya adalah Syekh Yusuf Al Makassary, seorang pejuang dari Makassar yang dibuang oleh penjajah Belanda ke Cape Town, Afrika Selatan beratus tahun lalu. Di Cape Town sendiri kini ada kota bernama Macassar, yang tentu saja terkait dengan kampung halaman Syekh Yusuf. Banyak orang-orang keturunan Indonesia yang bermukim dan menetap di Afsel, dan mereka adalah orang-orang yang turut membantu perjuangan bangsa Afsel melawan rezim Apartheid.

AACC2015-Nelson-Mandela-Wearing-Batik

Perkenalan Mandela pertama kali dengan batik Indonesia terjadi pada 1990 beberapa bulan setelah dia keluar dari penjara di Pulau Roben.

Keistimewaan lain dari Indonesia dan Nelson Mandela terpancar dari busana yang selalu dikenakannya yaitu, batik. Mantan Presiden Afrika Selatan ini di tahun 1997 sempat membuat mendiang Presiden RI Soeharto terhenyak ketika menerima Mandela dalam kunjungan kenegaraan. Saat itu Mandela mengenakan kemeja batik, sementara tuan rumah Pak Harto berbalut setelan jas lengkap.

Kecintaan Nelson Mandela terhadap batik rupanya juga terlihat saat menghadiri acara-acara resmi seperti peluncuran asosiasi mantan pemimpin dunia, The Elders Juli tahun 2007 lalu. Di kesempatan ini, lagi-lagi pria kelahiran Mvezo, Afrika Selatan, 18 Juli 1918 ini dengan bangga mengenakan kemeja batik Indonesia. Acara tersebut diadakan bertepatan dengan ulangtahun ke-89 tokoh veteran perjuangan anti-apartheid ini. Dan Nelson Mandela dielu-elukan apalagi dengan mengenakan batik yang membuat sosoknya terlihat bersahaja.

Perkenalan Mandela pertama kali dengan batik Indonesia terjadi pada 1990 beberapa bulan setelah dia keluar dari penjara di Pulau Roben. Sebagai presiden Kongres Afrika Selatan, Mandela atau yang akrab dipanggil Madiba, mengadakan perjalanan pertama ke Asia, termasuk ke Indonesia.  Mandela langsung jatuh cinta ketika menerima cenderamata batik. Sebagian besar kemeja batik yang dikenakan Mandela merupakan rancangan mendiang Iwan Tirta. Maestro batik Indonesia yang dikenal dengan rancangannya melalui motif parang besar.

Sejak itu, sering sekali sang bapak bangsa Afsel itu mengenakan batik dalam acara-acara resmi, seperti bertemu dengan Ratu Elizabeth II, Bill Clinton, Bush, dan acara-acara resmi kenegaraan lain, termasuk ketika berpidato di Sidang Umum PBB. Di dalam artikel di tabloid Mirror yang terbit di Inggris, kemeja batik dari Indonesia ini ditulis panjang lebar.

Selamat jalan, Nelson Mandela. Selamat jalan, Sahabat Indonesia.

 

Sumber Artikel Nelson Mandela disunting dari God News From Indonesia

(Franciscus Zheng, Founder dari Benang Merah Komunikasi merupakan Relawan Asian African Carnival 2015 dengan No. Registrasi : 1504055520d8516cef2, berhak untuk melakukan penyebaran informasi event melalui internet / media siber. Artikel diatas merupakan saduran dari tulisan aslinya dari situs resmi, disunting secara tatabahasa dan editorial oleh Editorial Benang Merah Komunikasi.)

Franciscus Zheng

Author Franciscus Zheng

Founder, CEO, and act a lead Creative Director of Benang Merah Komunikasi itself. A Producer and also an artist. A friend and a creative entrepreneur, when in his very young age has spurred enthusiasm to grow become an originator of fresh ideas. Board of director of this company was a melancholic person.

More posts by Franciscus Zheng

© 2004-2017 Copyright Benang Merah Komunikasi Indonesia. Registered Trademarks.

Made with in Indonesia